TIDORE, TEROPONGMEDIA.ID – Pemilihan Kepala Daerah (Polkada) Serentak 2024 akan segera digelar. Para calon kepala daerah mulai bersiap untuk berkompetisi.
Di Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara contohnya yang dalam beberapa bulan ini tensi suhu politik menjelang pilkada makin tinggi bahkan saling klaim dan lain-lain.
Namun ada sisi-sisi menarik setelah dipantau oleh team media kami yang sempat bertemu dengan seorang anak muda Calon Wali Kota Tidore Kepulauan yang dianggap sangat kuat memenangkan kompetisi Pilkada 2024 yakni Syamsul Rizal Hasdy yang biasa disapa SRH.
Tim sempat menanyakan tentang apa motivasi SRH maju sebagai calon Wali Kota Tidore. Padahal, posisi beliau saat ini sudah sangat mapan dalam segala hal terutama dari sisi ekonomi karena berhasil memimpin perusahaan besar nasional di bidang pertambangan khususnya Nikel.
Dalam sebuah diskusi hangat, Syamsul Rizal mengungkapkan, sebuah historis menarik tentang Tidore yang pada masa lalu bukanlah sebuah Kota Administratif.
“Tidore pada masa lalu merupakan sebuah negara bahkan dalam interaksi sosial maupun ekonomi dan perdagangan sudah berskala internasional,” ujar Syamsul, Jumat (26/4/2024).
SRH bercerita tentang sejarah perjanjian Tordesilas yang lahir sejak hilangnya wilayah Andalusia Spanyol. Setelah Daulah Islam di Andalusia jatuh kemudian berdirilah dua negara yakni Spanyol dan Portugis. Keduanya adalah imperium yg berambisi memperluas wilayah dan menaklukan dunia baru.
BACA JUGA: Maju Pilwalkot Tidore Kepulauan, Syamsul Rizal Resmi Daftar di Partai Demokrat
Syamsul Rizal menjelaskan, untuk melerai perselisihan kedua imperium tersebut kemudian dibuatlah sebuah perjanjian yang dikenal dengan perjanjian Tordesilas pada tahun 1494.
Akhirnya, Paus Alexander VI membelah dunia menjadi dua yakni untuk Portugis bagian timur dan bagian barat untuk Spanyol. Kemudian, Paus Alexander VI memberikan mandat kepada mereka dengan misi 3G yakni Gold, Gospel, dan Glory.
Calon Wali Kota Tidore ini melanjutkan ceritanya bahwa melalui ekspedisi, kedua imperium ini berusaha menaklukan wilayah di bagiannya masing-masing untuk dimasukan dalam koloni mereka.
Ketika itu, orang-orang eropa pada abad 14 sedang sakit akibat runtuhnya Romawi Timur Konstantinopel yang jatuh ke tangan Turki Ustmani yang dipimpin oleh Sultan Mehmed II 1453.
Kondisi tersebut membuat orang eropa demi bertahan hidup harus mencari jalur baru untuk kebutuhan rempah rempah.
Dampak perjanjian Tordesilas menjadi salah satu faktor penjajahan di bumi nusantara pertama kali sehingga Banda Neira dan Tidore menjadi titik temu pembagian kekuasaan sekaligus menjadi lumbung rempah Pala dan Cengkeh.
Karena wilayah Banda Neira berada dalam kekuasaan Kesultanan Tidore yang berpusat di Kota Tidore dan sekitar abad 16 sampai 18 itulah masa kejayaan Tidore.
Calon Wali Kota Tidore ini juga mengatakan bahwa Tidore ke depan harus dibangun kembali kejayaannya. Bahkan secara geografis mirip dengan salah satu pulau yang pernah didatangi yakni Pulau Cocos Keeling Island, sebuah pulau di Australia yang penghuninya berketurunan Indonesia.
“Insya Allah Tidore Kepulauan ke depan akan maju pesat, investasi akan banyak yang masuk bersinergi agar kehidupan rakyat bisa terjamin dan sejahtera. Tidak akan ada lagi PNS yg dipindah pindahkan sembarangan dan seenaknya,” kata Syamsul Rizal.
“Untuk Oba saya sudah petakan menjadi 3 Zona pembangunan ke depan yakni Oba Selatan akan dijadikan Kawasan Industri dan Lumbung Pangan. Oba Tengah menjadi sentral perdagangan, jasa, pemukiman dan perbankan. Sedangkan Oba Utara akan menjadi pusat perkantoran yang mengendalikan semua aktifitas Pemerintahan, Politik, Ekonomi, Hukum, Pertahanan, Keamanan, dan lain-lain,” ujar Syamsul Rizal.
“Semua itu jika Allah berkehendak, saya yang pimpin Tidore Kepulauan ke depan, do’a kan saja ya,” kata SRH.
(Masri)