Blind Box, Blind Decision: Psikologi di Balik Fenomena Pop Mart

-

Tidak ada video disisipkan.

SUAR MAHASISWA AWARDS — Beberapa tahun terakhir, publik—khususnya kalangan muda—dibuat tergila-gila oleh sosok kecil berbulu bernama Labubu, salah satu karakter dari lini boneka Pop Mart asal Tiongkok. Boneka ini bukan sekadar mainan biasa. Ia telah menjelma menjadi simbol status, pemicu ledakan impulsif belanja, dan cerminan budaya konsumerisme yang kian tak terkendali.

Dari Mainan Anak ke Budaya Kolektor Dewasa
Dulu, mainan identik dengan anak-anak. Kini, justru orang dewasa yang menjadi pasar utama. Pop Mart—merek yang didirikan Wang Ning pada 2010—membawa perubahan besar dalam industri ini dengan mengusung konsep blind box atau “kotak misterius.” Konsumen tidak tahu boneka mana yang mereka dapatkan sampai kotaknya dibuka. Konsep ini memicu rasa penasaran, adrenalin, dan akhirnya dorongan untuk membeli lagi dan lagi—semuanya demi mendapatkan varian langka.

Labubu: Boneka Viral yang Membakar Dompet
Karakter Labubu, hasil karya seniman Kasing Lung, menjadi salah satu ikon Pop Mart yang paling diburu. Viralitas Labubu memuncak ketika Lisa BLACKPINK memamerkannya di media sosial pada April 2024. Sejak itu, Labubu bukan hanya populer—ia menjadi kegilaan global.

Antrean di toko Pop Mart pun memanjang. Di Jakarta, Vietnam, hingga Los Angeles, orang rela menginap di depan toko demi satu kotak. Di e-commerce Indonesia, Labubu edisi tertentu pernah dijual hingga Rp66 juta. Ironisnya, banyak pembeli bahkan tak benar-benar menyukai bonekanya—mereka hanya takut ketinggalan tren, atau yang kini lebih dikenal sebagai efek FOMO (Fear of Missing Out).

Strategi Pop Mart: Seni atau Eksploitasi Psikologis?
Kesuksesan Pop Mart memang tidak lepas dari strategi marketing yang cerdik: kolaborasi eksklusif dengan seniman, edisi terbatas, dan sistem blind box. Mereka memahami satu hal: manusia suka kejutan, menyukai hal langka, dan seringkali membeli bukan karena butuh—tapi karena takut kehilangan kesempatan.

Namun, di balik kreativitas itu, muncul pertanyaan: apakah strategi ini mendorong kebiasaan konsumsi yang sehat? Banyak kolektor mengakui membeli secara impulsif dan merasa kecewa setelahnya. Tapi karena “tidak puas,” mereka membeli lagi. Ini menciptakan siklus tanpa akhir: repeat purchase yang dikendalikan bukan oleh kebutuhan, tapi oleh ilusi eksklusivitas.

Ketika Mainan Menjadi Status Sosial
Tak dapat disangkal, Labubu telah berubah dari boneka menjadi simbol status. Bryanboy, fashion influencer ternama, bahkan menyematkannya pada tas Hermès Birkin yang bernilai ratusan juta. “Kontras antara boneka murah dan tas mahal itulah yang membuatnya menarik,” ungkapnya.

Namun, apakah makna di balik koleksi sudah bergeser? Kini, semakin banyak kamu punya Labubu, semakin tinggi reputasimu dalam komunitas kolektor. Seolah-olah nilai diri ditentukan oleh seberapa banyak “makhluk lucu bermata tajam” itu ada di lemarimu.

Refleksi: Hobi, Gaya Hidup, atau Obsesi?
Tidak salah jika seseorang ingin mengoleksi sesuatu yang mereka sukai. Namun ketika kegemaran berubah menjadi kebiasaan belanja impulsif, tekanan sosial, hingga pengeluaran tak terkendali, saatnya kita bertanya: apakah kita mengoleksi Labubu, atau justru Labubu yang mulai ‘memiliki’ kita?

Budaya Pop Mart memberi pelajaran tentang bagaimana visual, psikologi, dan pemasaran dapat membentuk perilaku manusia. Tapi ia juga menjadi cermin tentang bagaimana kita perlu menyeimbangkan antara keinginan dan kendali diri.

Penulis: 

Azzahra Dwi Savana Dinata

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260815-WA0004
Jumat Berkah PLN UP3 Majalaya, Hadirkan Semangat Berbagi di Momentum HUT ke-81 RI
WhatsApp Image 2026-08-15 at 11.52
KPU Kota Bandung Ajak Pemilih Pemula SMK Al-Hadi Jadi Pemilih Cerdas Lewat Pilketos
SAVE_20260815_081923
Memahami Aturan Pajak UMKM Terbaru: Tarif Tetap 0,5%, Berlaku Selamanya untuk Orang Pribadi
Gambar_stadion_segiri
Borneo FC Dapat Kepercayaan AFC, Samarinda Jadi Panggung Kompetisi Asia
WhatsApp Image 2026-08-14 at 12.30
Tangis Siswa Pecah di SD Kademangan, KKN UIN Bandung 203 Sorot Budaya Ejek di Kelas
Berita Lainnya

1

Profil Lengkap Budi Arie Menteri Komunikasi dan Informatika

2

Siapa Thomas Matthew Crooks Penembak Donald Trump? Terdaftar Pemilih Partai Republik

3

Woodyland Eatery Kafe Baru di Bandung Mengusung Tema Magical Forest Rest!

4

5

Meski Matic, ini Catatan Berkesan BBM Kijang Kapsul LGX
Headline
WhatsApp Image 2026-08-15 at 17.09
Pesta Rakyat Meriahkan Pembukaan Alun-alun Bandung pada 17 Agustus
WhatsApp Image 2026-08-14 at 15.03
Semangat Kemerdekaan Jadi Energi Kota Bandung Hadapi Berbagai Tantangan
siaran-pers-bersama-bank-bjb-x-persib-3-2
Kembali Berkolaborasi, bank bjb dan PERSIB Satukan Semangat Juara
WhatsApp Image 2026-08-13 at 17.36
Bandung Dorong Transformasi dari Smart City Menuju Data-Driven City