Bali Melawan Lupa Lewat Bulan Bahasa Bali VIII, Strategi Jaga Identitas

(Foto: Instagram/Denpasar.viral)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi budaya populer, Bali memilih melawan lupa dengan caranya sendiri. Selama sebulan penuh, Pemerintah Provinsi Bali menggelar Bulan Bahasa Bali VIII sebagai ruang hidup bagi bahasa, aksara, dan sastra Bali agar tetap relevan di zaman modern.

Bulan Bahasa Bali yang berlangsung pada 1–28 Februari 2026 ini resmi dibuka Gubernur Bali Wayan Koster di Taman Budaya Denpasar. Bagi Koster, agenda ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan strategi jangka panjang menjaga identitas dan keberlanjutan peradaban Bali.

“Tidak ada yang lebih membahagiakan selain menjaga bahasa, aksara, dan sastra Bali. Inilah yang akan melindungi generasi penerus Bali sepanjang zaman, meskipun diterpa intervensi lokal, nasional, hingga global,” ujar Koster, dikutip dari laman resmo Pemerintahan Provinsi Bali, Senin (2/2/2026).

Bahasa sebagai Hulu Kebudayaan

Koster menegaskan, bahasa dan aksara bukan sekadar alat komunikasi, tetapi hulu dari kebudayaan Bali. Ia menilai, daerah yang kehilangan bahasa dan aksaranya akan kehilangan sastra, nilai hidup, hingga jati diri masyarakatnya.

“Coba lihat daerah lain, aksara dan bahasanya makin punah. Kalau itu hilang, sastranya ikut hilang. Bali tidak boleh sampai ke titik itu,” katanya.

Komitmen tersebut diperkuat melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali, yang kini mulai digencarkan implementasinya secara masif pada periode kedua kepemimpinan Koster.

Aksara Bali Harus Hadir di Semua Ruang Publik

Tak berhenti pada festival budaya, Koster menargetkan Aksara Bali tampil di seluruh ruang publik, mulai dari papan nama, perhotelan, hingga produk lokal.

“Gunakan Aksara Bali. Kalau bisa tanpa huruf latin, itu keren,” tegasnya.

Ia bahkan menginstruksikan seluruh produk lokal Bali wajib menggunakan Aksara Bali. Hotel dan pelaku usaha yang abai, menurutnya, tak segan akan ditegur.

Bagi Koster, pelestarian aksara bukan romantisme masa lalu, melainkan upaya memperkuat karakter dan daya saing budaya Bali di tingkat global. Ia mencontohkan Jepang, Korea, China, dan Thailand yang mampu maju tanpa meninggalkan aksara leluhur.

Baca Juga:

6 Tradisi di Indonesia dalam Menyambut Bulan Ramadhan

Festival, Lontar, hingga Media Digital

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan Bali Ida Bagus Gde Wesnawa Punia menjelaskan, Bulan Bahasa Bali VIII mengusung tema “Atma Kerthi: Udiana Purnaning Jiwa”, yang dimaknai sebagai taman spiritual untuk membangun jiwa yang paripurna melalui bahasa dan sastra.

Rangkaian kegiatan tahun ini terbilang luas dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Mulai dari:

  • Festival Nyurat Aksara Bali di berbagai media, seperti lontar, batu, tembaga, kain, hingga media digital kreatif
  • Wimbakara (lomba) sebanyak 17 kategori yang menggabungkan bahasa, sastra, dan teknologi informasi
  • Widyatula (seminar) yang membedah lontar-lontar klasik tentang pembangunan jiwa
  • Kriyaloka (workshop) baligrafi, pembawa acara berbahasa Bali, hingga teknik berbicara publik
  • Reka Aksara, pameran transformasi aksara Bali dalam industri kreatif dan teknologi
  • Konservasi lontar, sebagai upaya penyelamatan manuskrip warisan leluhur
  • Pementasan sastra dan teater Bali modern

Dari Desa hingga Perguruan Tinggi

Menariknya, Bulan Bahasa Bali tidak hanya digelar di tingkat provinsi. Kegiatan ini dilaksanakan berjenjang dari desa adat, sekolah, hingga perguruan tinggi, dengan melibatkan pelajar, penyuluh bahasa, komunitas kreatif, Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM), dan akademisi.

Pada penutupan nanti, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali akan menganugerahkan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, penghargaan tertinggi bagi tokoh atau lembaga yang berjasa dalam pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Lebih dari Sekadar Festival

Bulan Bahasa Bali bukan sekadar agenda budaya tahunan. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, Bali mengirim pesan tegas: modernisasi tidak harus mengorbankan identitas.

Dengan bahasa dan aksara sebagai fondasi, Bali tak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menegaskan posisi kebudayaannya di panggung global.

(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Robby Nuzula Ramadhan)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
IMG-20260727-WA0000
PLN Ajak Pelanggan Manfaatkan PLN Mobile dan Fitur SwaCAM, Wujud Layanan Digital Menyambut HUT ke-81 RI
IMG-20260724-WA0004
PLN UP3 Majalaya Dukung Gerakan Jum'at ASRI, Perkuat Semangat Gotong Royong Jelang HUT ke-81 RI
bank bjb Imbau Nasabah Untuk Tetap Waspadai Modus Penipuan Digital, Pastikan Berkomunikasi Melalui Kanal Resmi
bank bjb Imbau Nasabah Untuk Tetap Waspadai Modus Penipuan Digital, Pastikan Berkomunikasi Melalui Kanal Resmi
WhatsApp Image 2026-07-22 at 11.48
Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung Hadirkan HANA Japanese Pop Up Kitchen, Pengalaman Bersantap Omakase Eksklusif
IMG-20260721-WA0006
DPRD Kota Bekasi Minta Dinkes Perketat Pengawasan Puskesmas Usai Dua Kasus Pelayanan Kesehatan
Berita Lainnya

1

Brace Cristiano Ronaldo Warnai Kemenangan Al Nassr atas Al Gharafa di Liga Champions Asia

2

Mursyid Asal Surabaya Dukung Gus Farkhan Evendi Jadi Utusan Presiden

3

Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman

4

Woodyland Eatery Kafe Baru di Bandung Mengusung Tema Magical Forest Rest!

5

Threads Melonjak Pesat, Jadi Penantang X Milik Elon Musk
Headline
IMG-20260727-WA0003
Gilang Dorong Puskesmas di Jakasampurna, Akses Layanan Kesehatan Jadi Prioritas
IMG-20260726-WA0003
DPRD Kota Bekasi Desak Pemerintah Pusat Tepati Komitmen Flyover Bulak Kapal, Warga Tak Bisa Terus Menunggu
IMG-20260726-WA0002
Reses Kreatif Samuel Sitompul Berbuah Puluhan Aspirasi Warga Bekasi Timur
IMG-20260725-WA0002
Wildan: Setiap Aspirasi Akan Kami Perjuangkan