BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Di tengah deretan anak muda yang berupaya menemukan ruang untuk berkembang, nama Anggia Ananda Safitri mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung hadir sebagai salah satu sosok yang menapaki jalan itu dengan langkah tenang namun pasti.
Melalui program Womenspirasi Summit, ia tidak hanya menemukan ruang belajar, tetapi juga memperluas makna tentang keberanian, kepemimpinan, dan peran perempuan dalam perubahan sosial.
Ketertarikan Anggia pada program ini bermula dari rasa ingin tahu. Ia melihat Womenspirasi Summit sebagai ruang yang memberi peluang bagi perempuan muda untuk bertumbuh dan saling menguatkan.
“Awalnya saya tertarik mengikuti program Womenspirasi Summit karena melihat program ini sebagai ruang bagi anak muda, khususnya perempuan, untuk berkembang dan saling menginspirasi. Saya merasa program ini sejalan dengan minat saya dalam pengembangan diri, kepemimpinan, dan kontribusi sosial. Dari situ saya mencoba mendaftar dan mengikuti setiap tahapan seleksi hingga akhirnya dipercaya menjadi delegasi tingkat nasional,” ujarnya.
Dengan keyakinan itu, Anggia mendaftarkan diri dan mengikuti setiap tahapan seleksi hingga akhirnya terpilih sebagai delegasi tingkat nasional. Baginya, proses tersebut bukan sekadar kompetisi, melainkan perjalanan belajar yang membuka banyak kemungkinan baru.
“Motivasi terbesar saya adalah keinginan untuk terus belajar dan memberikan dampak positif. Saya percaya bahwa anak muda memiliki potensi besar untuk membawa perubahan, dan program seperti ini menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus membangun jaringan dengan orang-orang yang memiliki visi yang sama,” katanya.
Perjalanan menuju delegasi nasional tentu tidak berlangsung singkat. Anggia mengaku proses seleksi yang dijalaninya memberikan pengalaman sekaligus tantangan tersendiri.
Proses seleksi yang saya jalani terdiri dari beberapa tahapan hingga akhirnya sampai di tahap akhir. Setiap tahap memberikan pengalaman yang berbeda dan cukup menantang, karena kami tidak hanya diuji dari kemampuan berpikir, tetapi juga dari cara menyampaikan ide serta kesiapan diri. Dari proses tersebut saya belajar untuk lebih percaya diri dan memaksimalkan kemampuan yang saya miliki,” jelasnya.
Di antara berbagai rangkaian kegiatan, ada satu momen yang paling membekas bagi Anggia, yakni ketika ia bekerja dalam tim bersama delegasi lain untuk menyelesaikan sebuah misi.
“Momen yang paling berkesan bagi saya adalah ketika kami dibagi ke dalam beberapa kelompok bersama sesama delegasi dan diminta menyelesaikan sebuah misi. Dari kegiatan itu saya bertemu dengan teman baru yang ternyata sangat klop dengan saya. Kami bisa bekerja sama dengan baik dan saling mendukung,” tuturnya.
Meski begitu, ada sedikit rasa haru karena teman barunya tersebut berasal dari Depok.
“Hal yang sedikit menyedihkan adalah teman tersebut berasal dari Depok, sehingga kemungkinan kita buat bisa sering bertemu secara langsung sangat dikit,” katanya.
Dari seluruh pengalaman itu, Anggia belajar bahwa menjadi perempuan sering kali tidak mudah, namun justru dari tantangan tersebut lahir kekuatan untuk terus berkembang.
“Setelah mengikuti program ini, saya belajar bahwa menjadi seorang perempuan memang tidak selalu mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Namun dari tantangan tersebut, justru muncul dorongan untuk menjadi perempuan yang lebih kuat, berdaya, dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Ia juga menilai generasi muda, khususnya perempuan, memiliki peran penting dalam membawa perubahan di masyarakat.
“Menurut saya, peran generasi muda khususnya perempuan sangat penting dalam membawa perubahan. Anak muda memiliki semangat, kreativitas, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Saat ini perempuan juga juga memiliki semakin banyak ruang untuk berkontribusi dan menunjukkan potensi mereka di berbagai bidang,” jelasnya.
Selama mengikuti program ini, Anggia juga membawa gagasan tentang pemberdayaan perempuan yang berkelanjutan.
“Selama mengikuti program ini, saya membawa gagasan tentang program pemberdayaan perempuan yang berkelanjutan. Program ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi perempuan untuk saling belajar, mengembangkan potensi diri, serta memperoleh dukungan agar mampu berkontribusi dan memberikan dampak positif di lingkungan sekitarnya,” katanya.
Di balik pencapaiannya, Anggia mengakui tantangan terbesar adalah mengatur waktu antara kegiatan akademik, organisasi, dan persiapan program.
“Tantangan yang saya hadapi adalah bagaimana mengatur waktu antara kegiatan akademik, organisasi, dan persiapan mengikuti program ini. Namun saya mencoba mengatasinya dengan manajemen waktu yang lebih baik serta tetap fokus pada tujuan yang ingin saya capai,” ujarnya.
Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kampus juga menjadi kekuatan penting dalam perjalanannya.
“Dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan kampus memiliki peran yang sangat besar. Mereka memberikan semangat dan kepercayaan sehingga saya bisa mengikuti setiap proses dengan lebih yakin. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat saya terus berusaha memberikan yang terbaik,” katanya.
Bagi Anggia, terpilih sebagai delegasi nasional bukan sekadar capaian pribadi, melainkan proses belajar yang penuh makna.
“Bagi saya, pencapaian ini bukan hanya tentang sebuah gelar sebagai delegasi nasional, tetapi juga tentang proses belajar, pengalaman, dan kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang inspiratif,” tuturnya.
Ke depan, ia ingin terus mengembangkan diri sekaligus membagikan pengalaman kepada generasi muda lainnya.
“Ke depannya, saya ingin terus mengembangkan diri sekaligus membagikan pengalaman yang saya dapatkan kepada lingkungan sekitar, terutama kepada teman-teman sebaya agar lebih berani mengambil kesempatan dan berkontribusi dalam berbagai kegiatan positif,” ujarnya.
Ia pun berpesan agar anak muda tidak takut mencoba kesempatan yang datang.
“Jangan takut mencoba dan mengambil kesempatan. Setiap pengalaman, baik berhasil maupun gagal, pasti akan memberikan pelajaran yang berharga. Yang terpenting adalah terus belajar, percaya pada kemampuan diri sendiri, dan berusaha memberikan manfaat bagi orang lain.,” katanya.
(Magang UIN Sunan Gunung Djati/Khusnul Yulida)






