BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – An Se Young kembali menegaskan statusnya sebagai simbol dominasi generasi baru bulu tangkis dunia. Di tengah kondisi fisik yang tidak ideal, tunggal putri Korea Selatan itu tetap mampu menuntaskan misi besar dengan menjuarai BWF World Tour Finals di Hangzhou, Minggu (21/12), sekaligus meraih gelar ke-11 dalam satu tahun kalender.
Final melawan Wang Zhiyi berubah menjadi ujian ketahanan fisik dan mental. Dalam duel berdurasi 96 menit, An Se Young beberapa kali terlihat menahan rasa sakit pada lutut kirinya. Namun situasi tersebut tak menghalanginya untuk menundukkan pemain peringkat dua dunia asal Tiongkok dengan skor 21-13, 18-21, 21-10, sekaligus mempertahankan mental juara hingga poin terakhir.
Gelar tersebut membuat An Se Young menyamai rekor tunggal putra Jepang Kento Momota pada 2019 sebagai pemain dengan koleksi gelar terbanyak dalam satu musim. Pencapaian ini menegaskan konsistensi luar biasa sang juara Olimpiade 2024, yang sepanjang tahun tampil stabil di level tertinggi turnamen dunia.
Baca Juga:
Putri KW Tumbang dari An Se Young di Laga Perdana BWF World Tour Finals 2025
Tak hanya prestasi, An Se Young juga mencetak sejarah dari sisi finansial. Federasi Bulu Tangkis Dunia mencatat ia menjadi pemain pertama yang mengumpulkan hadiah uang lebih dari US$1 juta dalam satu tahun, menandai era baru profesionalisme dan nilai ekonomi atlet elite bulu tangkis.
Sementara di sektor tunggal putra, kejutan besar datang dari Christo Popov. Pebalap raket asal Prancis itu menutup musim dengan kisah dongeng setelah menaklukkan juara dunia Shi Yuqi di final. Meski berstatus underdog dan tanpa gelar sepanjang musim, Popov justru tampil solid di turnamen pamungkas, sekaligus menjadi pemain Prancis pertama yang menjuarai BWF World Tour Finals.
Kemenangan Popov sekaligus menegaskan bahwa ajang penutup musim bukan hanya panggung dominasi pemain papan atas, tetapi juga ruang bagi munculnya kejutan dan pergantian peta kekuatan global.
BWF World Tour Finals 2025 pun menjadi penutup musim yang sarat pesan: dominasi An Se Young menegaskan konsistensi elite, sementara kejutan Popov membuka harapan baru bagi kekuatan Eropa di level tertinggi bulu tangkis dunia.
(Budis)







