JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Sejumlah siswa SDN Cikadongdong 2, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, setiap hari harus menyeberangi jembatan bambu darurat yang nyaris roboh demi bisa sampai ke sekolah.
Jembatan utama di wilayah itu sudah amblas ke dasar sungai dan tak kunjung diperbaiki selama hampir empat dekade.
Dalam rekaman video yang beredar, terlihat anak-anak berjalan perlahan meniti bambu licin selebar kurang dari satu meter. Di bawahnya, air sungai mengalir deras — sedikit saja salah langkah, mereka bisa terjatuh.
Namun, jembatan rapuh itu menjadi satu-satunya jalur menuju sekolah. Tidak ada pilihan lain.
Rasa Takut Bayangi Semangat Belajar
Alif (13), salah satu siswa kelas 6 SDN Cikadongdong 2, mengaku selalu diliputi rasa takut setiap kali melintasi jembatan tersebut, terutama saat musim hujan.
“Takut jatuh. Tapi kalau tidak lewat sini, tidak bisa ke sekolah. Kalau musim hujan, airnya tinggi dan lebih bahaya,” ujar Alif, Senin (10/11/2025).
Meski penuh risiko, Alif dan teman-temannya tetap berangkat sekolah setiap pagi dengan semangat belajar tinggi.
Ia berharap pemerintah segera membangun jembatan baru yang kokoh dan aman, agar mereka bisa bersekolah tanpa rasa cemas.
“Saya ingin jembatannya diperbaiki biar bisa sekolah dengan tenang dan tidak takut lagi,” katanya lirih.
Usulan Tak Digubris Selama 40 Tahun
Kepala Desa Cikadongdong, Teti Sumiati, membenarkan kondisi tersebut telah berlangsung lama dan belum mendapat perhatian serius.
Menurutnya, pihak desa sudah berulang kali mengajukan proposal pembangunan jembatan melalui berbagai jalur resmi, mulai dari musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) tingkat desa hingga kecamatan, bahkan surat resmi ke Dinas PUPR Kabupaten Pandeglang.
“Jembatan itu sudah rusak sekitar 40 tahun. Kami sudah beberapa kali mengajukan pembangunan lewat musrenbang desa dan kecamatan, juga proposal ke Dinas PUPR dan BPWSC Pandeglang, tapi belum ada hasil,” jelas Teti.
Ia mengungkapkan, setiap tahun pengajuan pembangunan selalu diajukan ulang, namun hingga kini tak satu pun realisasi turun ke lapangan.
Baca Juga:
Kerangka di Gubuk Cibatu Garut Dipastikan Pria, Polisi Masih Telusuri Identitas Korban
Tersangka Kasus Penculikan Balita Bilqis di Makassar Telah Menetap di Sukoharjo Setahun
Ancaman Nyata bagi Anak-anak
Teti menegaskan, jembatan bambu tersebut sudah tidak layak digunakan karena rapuh dan berisiko besar runtuh sewaktu-waktu.
“Yang paling kami khawatirkan itu anak-anak. Mereka harus lewat jembatan bambu setiap hari. Kalau jatuh, arus sungainya deras sekali,” ujarnya.
Selain akses pendidikan, jembatan itu juga menjadi jalur utama warga menuju pasar dan fasilitas kesehatan. Setiap kali musim hujan tiba, banyak warga yang terisolasi karena air sungai meluap dan jembatan tidak bisa dilalui.
Berharap pada Pemerintah
Masyarakat Desa Cikadongdong berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan memperbaiki jembatan yang sudah lama rusak itu.
Mereka menilai, pembangunan infrastruktur dasar seperti jembatan penghubung adalah kebutuhan mendesak demi keselamatan anak-anak dan kelancaran aktivitas warga.
“Harapan kami sederhana, jembatan ini bisa segera dibangun agar anak-anak tidak perlu lagi mempertaruhkan nyawa hanya untuk bersekolah,” kata Teti.
(Dist)
(Dist)


