BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Energi merupakan pilar utama dalam pembangunan, dan di era modern ini, swasembada energi menjadi salah satu solusi utama untuk mencapai kemandirian dan keberlanjutan lingkungan.
Di Jawa Barat, sejumlah tokoh dan komunitas telah mengambil langkah nyata untuk mendorong transisi energi berbasis sumber daya lokal.
Tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan listrik, inisiatif ini juga mempertahankan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
1. Abah Ugi: Pemimpin Adat yang Mengawal Swasembada Energi
Abah Ugi, pemimpin adat Kasepuhan Ciptagelar, telah lama mengusung konsep energi berbasis komunitas. Desa Ciptagelar kini menjadi salah satu contoh sukses dalam penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Teknologi ini memungkinkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan energi secara mandiri, tanpa bergantung pada sumber eksternal. Menariknya, pengelolaan energi di Ciptagelar tetap berlandaskan kearifan lokal, di mana keseimbangan antara alam dan manusia tetap dijaga.
Keberhasilan Ciptagelar menunjukkan bahwa modernitas dan budaya dapat berjalan beriringan. Dengan memanfaatkan energi terbarukan, masyarakat tetap dapat menjalankan tradisi seperti sistem lumbung padi yang mampu menyimpan cadangan pangan hingga puluhan tahun, menciptakan ketahanan pangan yang lebih baik.
2. Ridwan Kamil: Mewujudkan Desa Mandiri Energi
Sebagai mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil aktif dalam mendorong kebijakan energi hijau. Salah satu inisiatifnya yang paling berpengaruh adalah program Desa Mandiri Energi.
Melalui program ini, desa-desa di Jawa Barat didorong untuk memanfaatkan energi lokal, seperti panel surya dan biogas, guna menciptakan sumber daya energi yang berkelanjutan.
Ridwan Kamil juga mempercepat pembangunan solar panel di fasilitas umum serta mengadvokasi regulasi yang lebih ramah lingkungan. Langkah ini tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan pada energi fosil tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui sektor energi hijau.
Apa Swasembada Energi dan Mengapa Penting?
Swasembada energi adalah kondisi di mana suatu daerah atau komunitas dapat memenuhi kebutuhan energinya sendiri tanpa bergantung pada sumber eksternal.
Konsep ini berfokus pada penggunaan energi lokal yang lebih efisien dan berkelanjutan, baik yang bersumber dari energi terbarukan maupun sumber daya alam yang tersedia.
Di Indonesia, konsep ini telah berhasil diterapkan di beberapa wilayah, seperti:
- Kasepuhan Ciptagelar (Jawa Barat): Menggunakan PLTMH dan PLTS untuk memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri.
- Pulau Sumba (NTT): Proyek percontohan Sumba Iconic Island yang menggunakan energi terbarukan 100% dari tenaga surya, angin, dan biomassa.
- Desa Mandiri Energi di Jawa Barat: Warga menggunakan panel surya dan biogas sebagai sumber energi utama.
BACA JUGA:
8 Kebudayaan yang Dimiliki Kasepuhan Ciptagelar Asli di Sukabumi
Menilik Sejarah dan Ciri Khas Wisata Kampung Adat Ciptagelar Sukabumi
Budaya dan Energi: Keseimbangan antara Tradisi dan Modernitas
Swasembada energi tidak hanya sekadar tentang keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan pelestarian budaya. Beberapa aspek penting dari hubungan ini meliputi:
1. Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Energi
- Masyarakat adat telah lama menerapkan konsep energi berbasis sumber daya alam secara berkelanjutan.
- Kasepuhan Ciptagelar menjaga hutan sebagai sumber air untuk PLTMH.
- Masyarakat Sumba beralih ke tenaga surya sesuai dengan gaya hidup agraris mereka.
2. Ketahanan Energi untuk Pelestarian Budaya
- Energi mandiri memungkinkan dokumentasi dan pendidikan budaya melalui media digital.
- Listrik dari energi terbarukan mendukung pengelolaan sawah tradisional dan mempertahankan sistem lumbung padi.
2. Gotong Royong dalam Infrastruktur Energi
- Pembangunan PLTMH dan panel surya di banyak desa dilakukan secara kolektif oleh masyarakat.
- Energi mandiri membuka peluang bagi ekonomi kreatif berbasis budaya, seperti pertanian organik dan pariwisata berbasis komunitas.
3. Ritual dan Kepercayaan dalam Pengelolaan Energi
- Komunitas adat memiliki ritual khusus sebelum memanfaatkan energi alam.
- Konsep hutan larangan dan hutan titipan berfungsi untuk menjaga sumber daya air dalam pembangkit listrik mikrohidro.
Masa Depan Swasembada Energi di Indonesia
Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya energi hijau, swasembada energi menjadi solusi yang tidak hanya berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan budaya dan ekonomi lokal.
Dengan kombinasi antara kebijakan yang mendukung, teknologi yang tepat, dan kearifan lokal, Indonesia dapat terus maju dalam mewujudkan energi yang mandiri dan berkelanjutan.
Ke depan, inisiatif seperti yang Abah Ugi dan Ridwan Kamil lakukan perlu terus dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, komunitas lokal, dan sektor swasta.
Dengan begitu, kemandirian energi bukan sekadar impian, tetapi menjadi kenyataan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
(Hafidah Rismayanti/Usk)