Rupiah Masih Terpuruk Meski BI Rate Naik 50 Bps, Kenapa?

Nilai Tukar Rupiah Turun
Ilustrasi. (Teropongmedia)
-

Tidak ada video disisipkan.

JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengakui tekanan terhadap rupiah masih akan berlangsung hingga Juni 2026, meski bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga belum cukup untuk langsung membalikkan tekanan pasar terhadap mata uang domestik.

Permintaan Dolar Sedang Tinggi

Menurut Perry, tekanan rupiah dipicu tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri selama periode April hingga Juni.

Permintaan dolar datang dari beberapa kebutuhan musiman seperti pembayaran ibadah haji dan umrah, pembayaran bunga serta pokok utang luar negeri, hingga repatriasi dividen perusahaan ke luar negeri.

“Kalau kita melihat histori, memang rupiah mendapat tekanan April, Mei, Juni. Tetapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus,” ujar Perry.

Artinya, BI melihat tekanan saat ini sebagai kombinasi faktor global dan pola musiman tahunan.

BI Andalkan Intervensi dan Suku Bunga

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI mengaku terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, termasuk melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.

Selain itu, kenaikan BI Rate dan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) diarahkan untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar domestik.

Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa BI mulai lebih agresif menjaga stabilitas kurs dibanding sebelumnya.

Rupiah Sempat Bangkit, Tapi Tekanan Masih Besar

Pada perdagangan Rabu, rupiah sempat menguat 0,29% ke level Rp17.654 per dolar AS setelah sebelumnya menyentuh posisi terendah di Rp17.748.

Meski demikian, secara year to date rupiah masih tercatat melemah hampir 6% terhadap dolar AS.

Angka tersebut memperlihatkan tekanan eksternal terhadap pasar domestik masih sangat kuat, terutama di tengah penguatan dolar global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Baca Juga:

Rupiah Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, BI Rate Jadi Penentu Hari Ini!

Menkeu Purbaya Pilih Naik Haji saat Rupiah Makin Terpuruk

Pengakuan terbuka BI bahwa tekanan rupiah masih berlangsung hingga Juni memberi pesan penting bagi pasar: stabilisasi belum selesai.

Kini investor tidak hanya melihat besaran suku bunga, tetapi juga konsistensi langkah BI dalam menjaga kepercayaan pasar, arus modal asing, dan stabilitas sistem keuangan nasional.

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
Pemain Timnas Indonesia Persib
Timnas Indonesia Dibayangi Persaingan Selisih Gol, John Herdman Harus Benahi Lini Serang
IMG-20260928-WA0007
Pancasila dalam Genggaman, Ribuan Pelanggan PLN Majalaya Ikut Jaga Transparansi lewat SwaCAM
Polri di Bawah TNI dan Kemendagri
2.373 Personel Gabungan Amankan Indonesia vs Malaysia di GBK, Pengamanan Diperketat
IMG-20260926-WA0021
Jokowi Puji PSI Kota Bandung, Dorong Kader Aktif di Masyarakat
Evaluasi Program di Ciambar Sukabumi, Menakar Peran Kampus bagi Masyarakat Desa
Evaluasi Program Pengabdian Universitas Trisakti di Ciambar Sukabumi, Menakar Peran Kampus bagi Masyarakat Desa
Berita Lainnya

1

AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1

2

Studio Alam Gamplong, Destinasi Perfilman Favorit di Sleman

3

Persib Dapat Suntikan Tenaga 'Baru' Jelang Hadapi Lion City Sailors

4

6 Daftar Wisata, Dulu Favorit Sekarang Ditinggal Pengunjung

5

Titi DJ & Thomas Djorghi Rilis Duet Bertemu 5000 Detik
Headline
IMG-20260926-WA0015
Tunjukan Kartu Anggota di Rakorda PSI Kota Bandung, Jokowi: Sudah Setahun
Hoaks Pemadaman Internet Tiga Hari Beredar, Masyarakat Diimbau Tak Panik
Hoaks Pemadaman Internet Tiga Hari Beredar, Masyarakat Diimbau Tak Panik
bank bjb UPI
bank bjb dan UPI Berkolaborasi Perluas Manfaat bagi Civitas Akademika dan Masyarakat
bank bjb Buka Kantor Cabang Pangandaran, Perkuat Akses Keuangan dan Potensi Ekonomi Pesisir
bank bjb Buka Kantor Cabang Pangandaran, Perkuat Akses Keuangan dan Potensi Ekonomi Pesisir