BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Ronggeng Ketuk merupakan seni tari tradisional yang berkembang di Indramayu, Jawa Barat, yang berada di ambang kepunahan.
Tari ronggeng ketuk merupakan tarian yang ditampilkan berpasangan dan sejenis dengan tarian ketuk tilu khas Jawa Barat.
Mengutip laman ISI Yogyakarta, ronggeng ketuk adalah tarian yang dikembangkan oleh masyarakat desa Lelea, Indramayu. Tarian ini merupakan salah satu dari rangkaian tradisi dari upacara ngarot.
Upacara ngarot merupakan sebuah acara tahunan yang diadakan pada musim penghujan datang yakni antara bulan Oktober-November.
Ronggeng ketuk memiliki arti yaitu, ronggeng adalah seorang penari yang bisa menyanyi, sedangkan ketuk sendiri merupakan kaitan dari nama salah satu instrument yang mengiringi tarian tersebut atau biasa disebut cemplon.
Upacara Ngarot
Mengkutip dari Ejurnal, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Nurfadilah dalam penelitian yang berjudul “Eksistensi Kesenian Tari Ronggeng Ketuk Dalam Upacara Adat Ngarot di Desa Lelea Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu”, upacara ngarot adalah upacara adat khas Indramayu yang dilaksanakan oleh masyarakat petani.
Ngarot sendiri merupakan kata yang berasal dari bahasa sansekerta yang artinya membersihkan diri dari segala noda dan dosa akibat dari kesalahan perilaku atau kesalahan masa lalu.
Ronggeng Ketuk Indramayu memiliki arti dalam upacara ngarot, yaitu ketika tarian ini dimainkan masyarakat dengan harapan membawa kesuburan.
Dalam upacara ini masyarakat mengajak para pemuda juga untuk berperan aktif dalam memajukan pertanian.
Selain ronggeng ketuk dalam upacara ngarok juga memiliki acara arak-arakan, kegiatan ini dimulai dari alun-alun desa lalu berjalan sepanjang jalan desa dan kembali lagi ke alun-alun desa.
Prosesi seserahan juga dilakukan dalam tradisi ini, dimana penyerahan benih padi oleh kepala desa kepada laki-laki bujang. Sedangkan penyerahan kendi yang berisi air putih diberikan oleh isti kepala desa kepada perempuan.
Pada penghujung acara, masyarakat melakukan pesta pertunjukan yang diisi dengan pertunjukan tari ronggeng ketuk.
BACA JUGA
Ronggeng Gunung Pangandaran: Dari Ritual Sakral Menjadi Seni Pertunjukan yang Memikat
Eksistensi Ronggeng Ketuk
Ronggeng ketuk sekarang menghadapi banyaknya tantangan dalam pelestariannta, hal tersebut di dasari dengan beberapa faktor meliputi :
1. Perubahan Selera Masyarakat
Seiring dengan perubahan zaman, generasi muda saat ini cenderung lebih tertatik pada hiburan modern seperti musik dangdut dan organ tuggal.
2. Minimnya Regenerasi Seniman
Generasi muda saat ini cenderung kurang berminat dalam mempelejari dan melestarikan seni tradisional yang mengakibatkan kurangnya penerus dalam mempertahankan suatu budaya.
3. Kurangnya Dukungan Pemerintah dan Masyarakat
Minimnya perhatian dan dukungan dari pemerintah serta masyarakat dalam bentuk pendanaan, promosi hingga fasilitas ruang pertunjukan. Hal tersebut dapat menghambat perkembangan dan pelestarian sebuah budaya.
4. Persaingan dengan Hiburan Modern
Masyarakat lebih meminati pertunjukan pertunjukan yang bersifat modern seperti dangdut dan tari-tari modern. Ditambah dengan banyak masuknya budaya asing yang bermacam-macam dan dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat.
Dengan hal itu kita juga perlu memikirkan agar sebuah budaya atau tradisi tetap bisa terjaga dan dilestaratika, berikut upaya yang bida dilakukan dalam mencegah punahnya suatu budaya :
1. Mengadakan pelatihan atau workshop seni tradisional.
2. Memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan sebuah budaya atau tradisi tradisional.
3. Mengemas pertunjukan lebih modern tanpa menghilangkan nilai serta konsep dari budaya tersebut.
4. Meninggkatkan promosi melalui media, acara budaya dan pariwisata.
5. Memanfaatkan teknoligi dan media digital dengan membuat konten edukasi tentang seni tradisional.
Hal-hal tersebut dapat dilakukan oleh siapapun terutama generasi muda demi dapat terus menjaga seni dan budaya tradisional kita.
(Aak)