BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Dalam beberapa tahun terakhir, istilah self care seolah menjadi mantra modern yang kerap diulang di media sosial.
Dari unggahan motivasi hingga video keseharian yang tampak sempurna, kita disarankan untuk mencintai diri sendiri, menjaga kesehatan mental, dan hidup lebih seimbang.
Namun di balik tren yang tampak menenangkan itu, muncul paradoks baru: Mengapa semakin banyak orang yang justru merasa lelah saat berusaha “merawat diri?”
Ketika Merawat Diri Menjadi Tuntutan Baru
Awalnya, self-care dimaknai sebagai bentuk perhatian terhadap kebutuhan tubuh dan jiwa, sebuah jeda dari hiruk-pikuk hidup yang cepat. Namun di era media sosial, konsep ini sering berubah menjadi standar baru yang harus dicapai.
Kita mulai membandingkan diri sendiri dengan orang lain: “Apakah rutinitasku cukup produktif?” atau “Mengapa aku belum bisa se-tenang mereka yang meditasi setiap pagi?”
Alih-alih menenangkan, self-care kini menjadi ajang pembuktian. Banyak orang tanpa sadar menambah daftar “yang harus dilakukan” hanya demi merasa cukup baik.
Dari journaling, olahraga, hingga digital detox, semua dilakukan bukan lagi karena kebutuhan, melainkan karena takut tertinggal dalam tren “wellness”.
Menurut Prof. Trudie Chalder-psikolog klinis dan profesor terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioural Psychotherapy) di King’s College London, Inggris melalui penelitian dan pengalamannya menangani pasien dengan fatigue kronis, banyak orang berusaha terus-menerus memperbaiki diri, mengambil terlalu banyak tugas, membandingkan kemampuan mereka dengan standar yang tinggi yang akhirnya memperparah kelelahan emosional dan fisik.
Terapi perilaku kognitif yang dikembangkan olehnya mendorong pengakuan terhadap pencapaian kecil dan penyesuaian tuntutan agar lebih realistis.
Manurutnya, terkadang hidup di masa di mana bahkan istirahat pun harus terlihat produktif. Akibatnya, makna self-care yang seharusnya memberi ruang untuk pulih justru berubah menjadi tekanan untuk tampil sempurna.
Antara Keinginan untuk Pulih dan Kebutuhan Diakui
Banyak orang merasa bersalah ketika tidak melakukan cukup banyak hal untuk dirinya sendiri. Istirahat dianggap malas, dan tenang dianggap tidak ambisius.
Dalam tekanan itu, muncul bentuk self-pressure yang halus yaitu keinginan untuk “baik-baik saja” di hadapan dunia, bahkan saat hati sedang lelah.
Dalam perspektif psikologi sosial, keinginan agar dilihat ‘baik-baik saja’ adalah manifestasi dari kebutuhan manusia untuk diterima oleh orang lain. Sayangnya, saat kebutuhan itu menjadi tuntutan, ia berubah menjadi self-pressure yang menyiksa.
Belajar Membedakan Antara Perawatan dan Pelarian
Sering kali, kita menggunakan aktivitas self-care sebagai pelarian dari perasaan tidak nyaman. Kita menonton serial sepanjang malam, memesan makanan favorit, atau pergi ke tempat baru demi merasa lebih baik.
Namun jika dilakukan tanpa kesadaran, hal itu bisa menjadi cara halus untuk menunda menghadapi emosi yang sebenarnya.
Membedakan antara perawatan dan pelarian menjadi langkah penting.
Perawatan berarti hadir untuk diri sendiri, mengenali kebutuhan emosional dan fisik tanpa menghakimi. Pelarian, sebaliknya, berarti berusaha menutupi rasa tidak nyaman dengan aktivitas yang tampak menenangkan tapi tidak menyentuh akar masalah.
Menemukan Versi “Merawat Diri” yang Tulus
Mungkin sudah saatnya kita meninjau ulang makna self-care secara lebih personal. Tidak semua orang perlu meditasi, menulis jurnal, atau melakukan skin care berlapis-lapis untuk merasa damai.
Bagi sebagian orang, self-care bisa berarti tidur siang tanpa rasa bersalah. Bagi yang lain, mungkin hanya berbincang dengan teman tanpa topik serius.
Kuncinya bukan pada apa yang dilakukan, tapi bagaimana kita hadir untuk diri sendiri dengan jujur. Tanpa tekanan, tanpa pembuktian.
Pulih Tanpa Harus Sempurna
Dalam dunia yang menuntut kita untuk selalu terlihat baik, mengakui bahwa kita sedang lelah adalah bentuk keberanian.
Self care sejatinya bukan tentang menjadi versi terbaik dari diri sendiri, melainkan menjadi versi yang paling jujur-yang tahu kapan harus berjuang, dan kapan harus beristirahat.
Karena terkadang, cara terbaik untuk merawat diri bukanlah dengan melakukan lebih banyak hal, tetapi dengan membiarkan diri berhenti sejenak dan bernapas.
(Risdawati/Magang UNLA/Aak)