BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Cuaca di Kota Bandung belakangan terasa semakin tidak menentu. Pagi hari disambut terik matahari yang menyengat, sementara menjelang sore hujan kerap turun tiba-tiba. Perubahan cuaca ekstrem dalam satu hari ini mulai dirasakan dampaknya oleh para pelari, baik pemula maupun komunitas lari.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan: apakah aktivitas lari masih aman? Atau justru cuaca yang berganti begitu cepat membuat lari lebih banyak risikonya daripada manfaatnya?
Ancaman Heat Stroke di Siang Hari
Dokter spesialis olahraga, Dr. Antonious Andi Kurniawan, Sp. KO., mengingatkan bahwa aktivitas lari di tengah suhu panas ekstrem berisiko memicu heat stroke. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan untuk mendinginkan diri, sehingga suhu inti meningkat drastis.
“Heat stroke bisa terjadi saat suhu tubuh mencapai lebih dari 39 hingga 40 derajat Celsius. Ini kondisi serius dan dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani,” dikutip dari akun Instagram @dokandi pada Rabu (24/07/2024)
Ia menjelaskan, gejala heat stroke meliputi sakit kepala hebat, pusing, kebingungan, detak jantung meningkat, hingga kehilangan kesadaran. Risiko ini semakin tinggi jika pelari memaksakan diri berolahraga di bawah terik matahari tanpa hidrasi yang cukup.
Peringatan BMKG: Bandung Masuk Musim Pancaroba
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, sebelumnya telah mengingatkan masyarakat tentang fenomena cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Bandung. BMKG mencatat bahwa Indonesia tengah memasuki masa pancaroba, yang cirinya adalah cuaca panas dan gerah di pagi hingga siang, lalu berubah menjadi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di sore hari.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa periode peralihan ini ditandai dengan melemahnya angin baratan dan mulai masuknya angin timuran.
“Fenomena ini biasanya diawali dengan cuaca panas dan gerah, kemudian terjadi hujan lebat secara tiba-tiba disertai petir dan angin kencang,” ujar Teguh Rahayu di Bandung, Senin (6/4/2026), dilansir dari Antara.
Akibatnya, suhu di Bandung siang hari bisa mencapai 30-34 derajat Celsius, lalu turun drastis hingga 20-23 derajat Celsius saat hujan. Perubahan suhu sebesar 8-12 derajat dalam hitungan jam ini perlu diwaspadai para pelari.
Baca Juga:
Lomba Lari Makin Ramai, Kota Bandung Siapkan Jalan Lebih Nyaman untuk Runner
Manjakan Pecinta Lari, bank bjb Hadirkan Program Bundling Ultimate 10K di 4 Kota
Dua Ancaman Utama: Panas Ekstrem hingga Hipotermia
Ada dua ancaman utama yang mengintai para pelari di tengah cuaca ekstrem ini. Ancaman pertama adalah heat stroke di siang hari. Ancaman kedua adalah hipotermia di sore hari, yaitu ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat saat terkena hujan dan angin, yang dapat menyebabkan menggigil hebat, kebingungan, dan kehilangan koordinasi otot.
Tips Aman Lari di Tengah Cuaca Ekstrem
Untuk tetap aman, dr. Andi Kurniawan menyarankan para pelari untuk selalu mengecek prakiraan cuaca sebelum berolahraga di luar ruangan. Jika hujan turun, lebih baik mengganti latihan dengan olahraga indoor seperti treadmill atau peregangan otot.
Yang terpenting, jangan memaksakan diri karena kesehatan jauh lebih berharga daripada sekadar menjaga rutinitas latihan. Pantau cuaca, dengarkan tubuh anda, dan jadilah pelari yang cerdas.
(Magang Unpas / Putri Diva Cahya Satriani)











