BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Di tengah pesatnya modernisasi, Desa Ciptagelar di Sukabumi, Jawa Barat, menjadi contoh nyata bagaimana komunitas adat dapat mencapai swasembada energi dengan tetap menjaga tradisi.
Berlokasi di ketinggian 800-1.200 meter di atas permukaan laut, desa ini mengandalkan energi terbarukan sebagai sumber utama listrik untuk masyarakatnya.
Masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar telah lama mengadopsi teknologi energi terbarukan. Mereka memiliki empat Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang dibangun sejak 1997 dan mengandalkan aliran Sungai Cisono untuk memasok listrik bagi sekitar 1.500 hingga 1.700 keluarga.
Selain itu, desa ini juga memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) guna memastikan akses energi yang stabil, bahkan untuk koneksi internet yang memungkinkan warga tetap terhubung dengan dunia luar.
Menurut Yoyok Yogasmana, salah satu tetua adat Ciptagelar, keberlanjutan energi di desa ini tidak terlepas dari komitmen masyarakat dalam menjaga hutan sebagai sumber air utama.
Konsep hutan larangan, hutan titipan, dan hutan garapan menjadi strategi konservasi yang memungkinkan sumber daya alam tetap terjaga.
Teknologi dan Kearifan Lokal Berjalan Seiring
Meski hidup dalam komunitas adat yang menjunjung tinggi tradisi, warga Ciptagelar tidak menolak teknologi. Mereka memiliki jaringan televisi lokal bernama Ciga TV, yang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari, termasuk proses tanam dan panen padi yang dilakukan secara organik.
Selain itu, penggunaan internet untuk pendidikan dan informasi juga semakin berkembang.
Abah Ugi, pemimpin ke-11 Kasepuhan Ciptagelar, menegaskan bahwa komunitasnya tidak hanya fokus pada kemandirian energi, tetapi juga ketahanan pangan.
Dengan metode tanam tradisional yang tidak menggunakan pupuk kimia, masyarakat desa ini memiliki cadangan pangan yang cukup hingga 95 tahun ke depan.
Leuit atau lumbung padi menjadi simbol ketahanan dan kesejahteraan masyarakat adat ini.
BACA JUGA:
Indonesia Butuh Swasembada Energi, Biomassa dari Limbah Pertanian Bisa Gantikan Bahan Bakar PLTU
Diresmikan Presiden Prabowo, Berapa Kapasitas PLTA Jatigede?
Tantangan dan Potensi Energi Terbarukan di Indonesia
Ciptagelar membuktikan bahwa energi terbarukan dapat diterapkan secara luas di Indonesia. Sayangnya, tingkat pemanfaatan energi bersih di Indonesia masih rendah.
Data menunjukkan bahwa bauran energi terbarukan di Indonesia baru mencapai 12%, jauh di bawah rata-rata negara-negara G20 yang mencapai 25%.
Menurut Fabby Tumiwa, Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR). Pemanfaatan energi terbarukan yang lebih masif dapat membantu Indonesia mengurangi emisi karbon.
Dalam Perjanjian Paris, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% secara mandiri dan 41% dengan bantuan internasional. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil masih tinggi.
Pemerintah telah merancang strategi untuk meningkatkan bauran energi terbarukan menjadi 23% pada 2025. Namun, tantangan utama masih berkisar pada regulasi dan kebijakan investasi.
Diperlukan langkah konkret seperti penghentian pembangunan PLTU baru dan peningkatan investasi pada energi ramah lingkungan.
Model swasembada energi seperti yang diterapkan di Kasepuhan Ciptagelar seharusnya menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
Dengan pendekatan berbasis komunitas, pelestarian lingkungan. Serta pemanfaatan teknologi yang selaras dengan budaya, Indonesia dapat mencapai ketahanan energi yang lebih baik.
Peran serta masyarakat dan dukungan pemerintah menjadi kunci untuk menjadikan energi terbarukan sebagai solusi utama bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.
(Hafidah Rismayanti/Aak)