Benjang Dianggap Bahaya? Justru Jadi Warisan yang Tak Tergantikan

Benjang
Benjang Dianggap Bahaya? Justru Jadi Warisan yang Tak Tergantikan (dok. Daniel Oktorio)
-

Tidak ada video disisipkan.

BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Dalam dentuman kendang yang menggema dan sorakan penonton yang antusias, Benjang kembali menjadi suguhan khas masyarakat Ujungberung. Namun di balik pertunjukan yang hari ini memukau banyak orang, kesenian ini menyimpan sejarah kelam: sebuah masa ketika Benjang tidak hanya disingkirkan, tetapi dilarang secara aktif oleh kekuasaan.

Benjang merupakan seni bela diri tradisional asal Ujungberung, Kota Bandung. Ia memadukan teknik pencak silat dengan unsur hiburan dan pertunjukan rakyat. Biasanya digelar dalam momen-momen penting masyarakat seperti panen raya, khitanan, atau syukuran. Kesenian ini tidak hanya memperlihatkan kekuatan fisik, tetapi juga menampilkan nilai-nilai spiritual, keberanian, dan persaudaraan khas masyarakat Sunda.

Namun, di masa Orde Baru, sekitar tahun 1970-an hingga akhir 1990-an, Benjang masuk dalam daftar kesenian yang dilarang tampil secara terbuka. Pemerintah kala itu menilai bahwa Benjang mengandung potensi kekerasan dan berisiko menimbulkan kerusuhan sosial. Dalam Jurnal Budaya Etnika, Wahyuni, A. P., Lahpan, N. Y. K., & Yuningsih, Y. (2021) menyatakan bahwa pemerintah menganggap atmosfer kompetitif dalam pertunjukan Benjang dapat memicu konflik antarkelompok masyarakat. Kegiatan yang menarik kerumunan besar, penuh sorakan, dan diwarnai adu fisik dianggap sebagai pemantik ketegangan di tengah masyarakat yang saat itu dijaga ketat dalam narasi stabilitas dan ketertiban.

Baca Juga:

Masih Dianggap Mistis, Ini Sisi Lain Kesenian Reak yang Jarang Diungkap

4 Nilai Strategis Kesenian Tarawangsa yang Masuk Kategori Warisan Budaya Takbenda

Pelarangan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi berimbas langsung pada kehidupan komunitas. Organisasi-organisasi Benjang dibubarkan secara paksa, pelatihan ditiadakan, dan pertunjukan dilarang keras. Para pelatih kehilangan murid, dan anak-anak muda kehilangan kesempatan belajar tradisi yang telah hidup ratusan tahun. Dalam kondisi ini, Benjang hanya bertahan di ruang-ruang tersembunyi: di kebun, ladang, atau halaman rumah tertutup. Aktivitas dilakukan diam-diam, penuh risiko, hanya demi menjaga agar nyala tradisi ini tidak benar-benar padam.

ampir tiga dekade lamanya, Benjang tidak memiliki tempat di ruang publik. Akibatnya, sebagian besar praktik dan teknik dalam kesenian ini tidak terdokumentasi dengan baik. Banyak nilai-nilai luhur yang terkandung dalam gerak dan ritual Benjang hilang bersama dengan generasi yang terputus. Stigma negatif pun muncul. Sebagian masyarakat mulai menganggap Benjang sebagai kegiatan kasar, tidak mendidik, dan bahkan berbahaya.

Setelah masa reformasi tahun 1999, iklim kebebasan berekspresi mulai memungkinkan kebangkitan kembali kesenian-kesenian lokal yang selama ini dibungkam. Komunitas Benjang yang semula tersembunyi perlahan bangkit kembali. Mereka membentuk ulang organisasi pelestari, menyusun program pelatihan bagi generasi muda, serta mengadakan pertunjukan dalam skala kecil yang lama-lama diterima kembali oleh publik.
Hamid (2022), dalam penelitiannya mengenai perkembangan organisasi Benjang, menyebutkan bahwa pada awal 2000-an komunitas Benjang Gulat Ujungberung kembali aktif, menandai era baru kebangkitan kesenian ini. Upaya pelestarian diperkuat melalui pelatihan terstruktur, kerja sama dengan sekolah, hingga keikutsertaan dalam festival budaya yang lebih besar. Dukungan dari pemerintah daerah pun mulai hadir, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya lokal.


Meski larangan telah usai, dampaknya masih terasa hingga hari ini. Minimnya dokumentasi, terbatasnya jumlah pelatih senior, serta belum adanya pengakuan formal dalam sistem pendidikan menjadi tantangan tersendiri. Benjang memang telah kembali, tetapi perjuangan untuk mengangkatnya ke posisi sejajar dengan kesenian lain masih membutuhkan komitmen dan kerja keras dari berbagai pihak.
Kisah Benjang menjadi bukti nyata bagaimana sebuah kesenian tradisional bisa menjadi korban dari persepsi kekuasaan yang mengaitkan ekspresi budaya dengan ancaman stabilitas. Padahal, di balik gerakan adu fisik yang tampak keras, Benjang menyimpan nilai-nilai luhur seperti sportivitas, solidaritas, dan penghormatan terhadap leluhur.


Kini, Benjang tampil kembali di tengah masyarakat, namun sejarah kelam pelarangannya patut dikenang. Bukan untuk membuka luka lama, tetapi sebagai pengingat bahwa warisan budaya tak selalu berada dalam posisi aman. Ia bisa ditekan, dibungkam, dan dilupakan, jika tak ada yang memperjuangkan keberadaannya. Benjang berdiri hari ini bukan karena semata dilestarikan, tetapi karena selama masa gelapnya, ada komunitas kecil yang tak berhenti menjaga nyalanya dalam diam.

Penulis:

Daniel Oktorio Saragih
Jurusan : Ilmu Komunikasi

Universitas Informatika Dan Bisnis Indonesia (UNIBI)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
WhatsApp Image 2025-05-27 at 13.34
Persib Kembali Dongkrak Ranking Indonesia di Asia
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Persib Bandung kembali memberikan kontribusi penting bagi sepak bola...
nobar persib vs persija
Bus Persib U-18 Diserang di Batang, Persija: Rivalitas Bukan Alasan untuk Kekerasan
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Rivalitas Persib Bandung dan Persija Jakarta kembali menjadi sorotan setelah...
arteta
Arteta Bertahan hingga 2030, Arsenal Siapkan Era Baru Setelah Akhiri Puasa Gelar
LONDON, TEROPONGMEDIA.ID – Arsenal menunjukkan keseriusan membangun era kejayaan baru bersama Mikel Arteta....
Jorge Martin
Marc Marquez Pangkas Jarak, Terpaut Dua Poin dari Jorge Martin
MOTEGI, TEROPONGMEDIA.ID – Persaingan perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026 semakin panas setelah Marc...
IMG-20260930-WA0004
PLN UP3 Majalaya Intensifkan Pemeliharaan Jaringan Listrik, Jaga Keandalan Pasokan bagi Pelanggan
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Majalaya...
Berita Lainnya

1

penembakan Donald Trump-1
Siapa Thomas Matthew Crooks Penembak Donald Trump? Terdaftar Pemilih Partai Republik
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Sosok Thomas Matthew Crooks saat ini jadi sorotan usai pihak berwenang...

2

AC Milan
AC Milan Bawa Pulang Kemenangan Setelah Taklukan Como 2-1
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — AC Milan berhasil kalahkan Como dengan skor 2-1 dalam pertandingan...

3

Pria gangguan kejiwaan gantung diri
–=DP[AOJ)(55)—dPD [45]

4

Jadwal Adzan Magrib Lombok
Jadwal Adzan Magrib Lombok Hari Ini 17 Maret 2025
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Bagi umat muslim, jadwal adzan magrib merupakan hal yang penting ketika...

5

mengobati gigitan tomcat-1
Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Gigitan tomcat dapat menyebabkan kulit melepuh dan reaksi alergi pada...
Headline
Dorong Tata Kelola dan Kepastian Hukum, bank bjb Perkuat Kolaborasi dengan Kejati Banten
bank bjb Perkuat Kolaborasi dengan Kejati Banten Demi Peningkatan Tata Kelola dan Kepastian Hukum
BANTEN, TEROPONGMEDIA.ID – bank bjb memperkuat sinergi dengan Kejaksaan Tinggi Banten melalui Penandatanganan...
Ferry Paulus
Isu Panas Hak Persib Dipinjamkan LIB, Persija Layangkan Somasi
JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Persija Jakarta mengambil langkah hukum dengan melayangkan somasi kepada...
IMG-20260926-WA0015
Tunjukan Kartu Anggota di Rakorda PSI Kota Bandung, Jokowi: Sudah Setahun
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Presiden Indonesia ketujuh Joko Widodo memamerkan kartu anggota Partai Solidaritas...
Hoaks Pemadaman Internet Tiga Hari Beredar, Masyarakat Diimbau Tak Panik
Hoaks Pemadaman Internet Tiga Hari Beredar, Masyarakat Diimbau Tak Panik
BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Informasi mengenai rencana pemadaman internet nasional selama tiga...