BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April sering kali identik dengan perayaan busana adat dan seremoni formal. Namun, bagi Komisioner KPU Kota Bandung, Wenti Frihadianti, momentum ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam.
Baginya, Kartini adalah simbol keberanian perempuan untuk mengambil ruang di sektor publik, terutama di ranah politik yang selama ini dikenal maskulin.
Dalam refleksi mendalamnya, Wenti menekankan bahwa keterlibatan perempuan dalam politik dan penyelenggaraan pemilu adalah bentuk modern dari perjuangan literasi dan emansipasi yang dimulai oleh R.A. Kartini.
Mendobrak Standar Ganda di Panggung Politik
Memasuki dunia politik atau birokrasi tingkat tinggi bagi perempuan sering kali dirasakan seperti berjalan di atas panggung yang lampunya belum sepenuhnya menyorot dengan adil. Wenti menyoroti adanya standar ganda yang masih menghantui para perempuan pengambil kebijakan.
“Kita menghadapi tantangan yang unik. Perempuan di politik dituntut harus tegas tapi tetap dianggap santun, harus pintar tapi jangan sampai dianggap mengancam, serta harus vokal namun tetap menjaga agar tidak dicap emosional,” ujar Wenti.
Menurutnya, dinamika “keras” di dunia politik bukanlah tembok penghalang, melainkan ujian daya tahan atau resiliensi. “Memberdayakan diri di ranah politik berarti mengubah keraguan publik menjadi kebijakan yang nyata,” tambahnya.
Dari Surat ke Legislasi: Kekuatan Perspektif Perempuan
Jika dahulu Kartini berjuang melalui surat-suratnya yang mendunia, maka perempuan masa kini berjuang melalui legislasi, regulasi, dan keputusan-keputusan strategis. Wenti menegaskan bahwa kehadiran perempuan di politik bukan hanya soal memenuhi angka kuota 30 persen.
“Kekuatan perempuan di politik itu soal perspektif. Ada isu-isu krusial seperti stunting, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga akses ekonomi mikro yang sering kali baru mendapat tempat utama di meja perundingan ketika perempuan yang menyuarakannya,” jelasnya tegas.
Sebagai informasi jumlah petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) terdiri dari 23 perempuan dan 27 laki-laki, sedangkan petugas Panitia Pemungutan Suara terdiri dari 134 perempuan dan 319 laki-laki.
Meski komposisinya belum ideal, namun ia meyakini bahwa sudah ada upaya agar perempuan sebagai penyambung lidah bagi kaum marginal yang suaranya kerap terabaikan.
Baca Juga:
KPU Kota Bandung Gelar Lomba Stand Up Comedy, Sosialisasikan Pilkada Serentak 2024
KPU Kota Bandung Siapkan 10 TPS Khusus saat Pilwalkot Bandung 2024
Membangun Sisterhood dan Mentalitas Baja
Dunia politik yang penuh dengan gesekan kepentingan memerlukan mentalitas yang tidak mudah patah. Wenti mengajak seluruh perempuan di Kota Bandung, khususnya yang berkecimpung di dunia kepemiluan dan politik, untuk membangun jejaring atau sisterhood.
“Kita harus saling menguatkan. Membangun jejaring sesama perempuan sangat penting untuk memastikan tidak ada dari kita yang merasa berjuang sendirian di tengah upaya marginalisasi atau kritik personal,” pesannya.
Investasi Kapasitas: Kuasai Data dan Hukum
Mengambil teladan dari sosok Kartini yang haus akan ilmu pengetahuan, Wenti Frihadianti mengingatkan bahwa pemberdayaan sejati datang dari kualitas diri, bukan sekadar popularitas semata.
Ia mendorong para “Kartini Modern” untuk terus berinvestasi pada kapasitas diri dengan cara:
- Literasi Data: Memahami data lapangan agar argumentasi lebih kuat.
- Pemahaman Hukum: Menguasai regulasi agar tidak mudah diintervensi.
- Kemampuan Negosiasi: Mengasah teknik komunikasi politik yang efektif.
“Saat kapasitas kita mumpuni, suara kita tidak lagi bisa dianggap sebelah mata oleh pihak manapun,” tuturnya.
Politik dengan Sentuhan Empati
Menutup refleksinya, Wenti Frihadianti menyatakan bahwa menjadi perempuan di politik adalah bentuk pendobrakan batas. Baginya, politik tanpa sentuhan perempuan hanya akan menjadi arena perebutan kekuasaan yang kaku dan dingin.
“Teruslah memberdayakan diri dengan literasi dan empati. Dinamika yang melelahkan adalah bukti bahwa kita sedang membuat perubahan. Selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan hebat, teruslah menyala, karena di tangan perempuan yang berdaya, arah bangsa ini ditentukan,” pungkasnya.











