BANDUNG, TM.ID: Gedung Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) dilaporkan terbakar pada Selasa (13/6/2023) sekitar pukul 4.33 WIB dini hari.
Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung cepat bertindak untuk memadamkan si jago merah yang berkobar pada salah satu bangunan kampus ISBI. Hingga saat ini, petugas masih melakukan pendalaman terkait peristiwa kebakaran ini.
PB Kota Bandung saat terjadi kebakaran, sempat mengimbau kepada warga untuk memberikan jalan supaya petugas Damkar mudah melintas.
BACA JUGA: Kebakaran Hanguskan Gedung Dewi Asri ISBI Bandung
Sejarah ISBI Bandung

Awal berdiri, ISBI merupakan aspirasi dari masyarakat Jawa Barat yang menghendaki adanya lembaga pendidikan tinggi seni tari di Bandung, dengan melalui surat keputusan Wali Kota-madya Bandung nomor 5539/68, tanggal 31 Maret 1968 di Bandung didirikan Konservatori Tari (KORI) yang pengelolaannya ada di bawah Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung.
Dengan adanya peminatan dari masyarakat dan perhatian dari pemerintah, maka KORI mengupayakan agar diakui menjadi lembaga formal.
Melalui kesepakatan antar Dirjen Kebudayaan Kantor Daerah Kodya Bandung, Pemerintah Kodya Bandung, Inspektorat Pendidikan Kesenian Jawa Barat, dan Direktur Akademi Seni Tari di Indonesia nomor 016/A.I/1970 tentang Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung yang merupakan kelas jauh ASTI Yogyakarta. Dengan demikian, sejak tanggal 27 Februari 1971, Konservatori Tari berubah menjadi Akademi Seni Tari Indonesia Jurusan Sunda di Bandung.
Berawal Tahun 1976 ASTI jurusan Sunda di Bandung, dinaungi Direktorat Jenderal Kebudayaan Depdikbud serta dengan perguruan tinggi lainnya, yaitu Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padang panjang, dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar.
Seluruhnya dinaungi oleh satu proyek yaitu Proyek Pengembangan Institut Kesenian Indonesia (IKI) Jakarta. Beberapa perguruan tinggi di antaranya, yaitu ASTI Yogyakarta, ASKI Surakarta, dan ASTI Denpasar statusnya telah ditingkatan.
ASTI Yogyakarta bersama perguruan tinggi lainnya digabung dan mendapatkan peningkatan menjadi Insitut Seni Indonesia (ISI), ASKI Surakarta berubah menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), serta ASTI Bandung ikut mendapatkan rubahan menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) berdasarkan keputusan Presiden RI No. 59 Tahun 1995.
STSI Bandung berdiri dengan empat konsentrasi prodi, yakni jurusan Tari, Karawitan, Teater, dan Seni Rupa Pertunjukan.
Kemudian pada 13 Januari 2013 lahirlah Program Studi Senirupa Murni jenjang Diploma III (D-3), Prodi rias dan Busana Diploma IV (D-4) hasil keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 141/E/O/2012 tanggal 4 April 2012 tentang penyelenggaraan program Studi Televisi dan Film jenjang Diploma IV (D-4) pada STSI Bandung, serta Program Studi Angklung dan Musik Bambu Jenjang Diploma IV (D-4), berdasarkan Kemendikbud Republik Indonesia, Nomor: 149/E/O/2012, tanggal 27 April 2012.
Barulah pada tahun Akademik 2012/2013 secara resmi menerima pendaftaran mahasiswa baru angkatan pertama.
Peralihan STSI menuju ISBI sebagai Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan (MP3EI), sekaligus peningkatan kualitas pendidikan khususnya Seni Budaya.
Perubahan status tersebut sesuai dengan Perpres No. 86 Tahun 2014 Tanggal 25 Agustus 2014, ditandatangi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tanggal 6 Oktober 2014 pukul 14.32 WIB di Gedung Nala, Markas Komando Armada RI Kawasan Timur (MAKO ARMATIM), Surabaya. Tak hanya ISBI Bandung yang diresmikan tetapi juga Institut Seni dan Budaya Indonesia Tanah Papua dan Institut Seni dan Budaya Indonesia Aceh.
BACA JUGA: Terkait Kasus Suap MA, KPK Periksa Karyawati Bank Mandiri
(Saepul/Dist)