BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Teh, minuman yang akrab dengan lidah masyarakat Indonesia sejak kecil, dinilai belum mendapat tempat layak di tengah gempuran budaya minum kopi.
Hal tersebut disampaikan oleh Anggota DPD RI sekaligus komedian Alfiansyah Bustami, atau yang lebih dikenal sebagai Komeng, saat menghadiri Tea Fest 2025 di Bandung Indah Plaza, Sabtu (19/7/2025).
Dengan gaya khasnya, Komeng menyindir bahwa teh seolah kalah pamor dibanding kopi.
“Orang banyak kenal warkop, tapi nggak ada warteh. Padahal teh itu lebih dekat dengan kita dari kecil,” kata Komeng dengan gaya khasnya.
Komeng menilai, teh Indonesia khususnya dari Jawa Barat yang merupakan penghasil teh terbesar di Indonesia, seharusnya bisa bersaing secara langsung dengan kopi di pasar lokal maupun internasional. Komeng juga menekankan pentingnya membuka ruang yang lebih inklusif bagi inovasi dan pemasaran teh.
“Ke depan, jangan terlalu tertutup. Teh harus bisa masuk dari depan, jangan ketinggalan dari minuman lain. Teh itu membumi, tapi kurang dimajukan,” ucapnya.
Komeng juga berbagi kisah masa kecilnya saat neneknya menyeduh teh dan membungkus teko dengan kain agar tetap hangat.
“Dulu belum ada tumbler, jadi teko dikasih jaket. Teh itu nikmat kalau anget, bisa bantu jaga tubuh, bahkan bantu hancurin lemak,” ujarnya sambil tertawa
Sementara itu, Ahli Teh Dadan Rohdiana menyoroti lemahnya perhatian pemerintah terhadap teh sebagai komoditas strategis. Dirinya mengungkapkan Indonesia justru terlempar dari daftar 10 besar negara penghasil teh unggulan dunia.
“Seolah-olah pemerintah memandang teh sebelah mata. Padahal dari segi konsumsi, kita sangat cukup. Kalau semua orang Indonesia minum satu gram teh saja per hari, produksi kita masih kurang,” ujar Dadan.
Menurutnya, saat ini produktivitas teh di tingkat petani masih rendah, permodalan sulit diakses, dan di sektor hilir, produk teh masih kurang inovatif dibanding kompetitor seperti kopi atau minuman kekinian lainnya.
“Kita tak perlu ekspor kalau dalam negeri saja bisa serap. Tapi selama kita anggap teh bukan komoditas strategis, maka sektor hulunya pun akan terus merugi,” pungkasnya.
Baik Komeng maupun Dadan sama-sama mendorong agar pemerintah mengambil peran aktif seperti mendorong hilirisasi, meningkatkan branding teh nasional, dan membangun jejaring industri teh dari kebun hingga cangkir.
Apalagi teh punya nilai sejarah panjang di Nusantara, dari teh talua di Sumatera, teh tubruk di Jawa, hingga teh tarik ala pesisir.
(Kyy/_Usk)