BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Jangjawokan, dalam konteks puisi arkais Sunda, sebagai permintaan atau perintah agar keinginan si pengguna Jangjawokan terlaksana oleh makhluk gaib.
Namun, terdapat pula Jangjawokan yang menggunakan bacaan seperti dalam doa, yang kemudian dikategorikan sebagai doa, bukan Jangjawokan. Pertanyaan pun muncul, apakah ada Jangjawokan yang bukan doa?
Pemilahan antara Jangjawokan dan doa dapat terjadi berdasarkan kacamata sastra, namun juga bisa terlihat dari sudut pandang lain.
Jangjawokan memiliki kekuatan magis, yang membuatnya ditransmisikan secara turun temurun. Penggunaan Jangjawokan dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan harmoni manusia dengan alam.
Peran Jangjawokan juga dapat diasumsikan dalam konteks penyembuhan fisik dan psikis, sebelum diserahkan kepada para penyembuh modern.
Jangjawokan terpakai dalam berbagai kegiatan harian, seperti sebelum buang air dan kegiatan lainnya. Jangjawokan jenis ini ada dalam berbagai konteks, seperti sebelum makan, sebelum bertamu, dan lainnya.
Ciri-ciri Jangjawokan menurut Wahyu Wibisana mencakup:
- Menyebutkan nama kuasa imajiner, seperti Pohaci Sanghiyang Asri, Batara, Batari, dll.
- Si pengucap Jangjawokan berada pada posisi yang lebih kuat, berhadapan dengan pihak yang lemah.
- Bersifat imperative dan persuasif, dengan desakan atau perintah yang tegas.
- Memiliki rima-rima dalam Jangjawokan, yang memiliki fungsi estetis, membangun irama, fungsi magis, dan membuat ingatan.
- Adanya lintas kode bahasa pada Jangjawokan yang hidup di Priangan dan Baduy, sesuaikan dengan lidah pengucapnya.
- Terkesan sebagai sastra arkais yang muncul setelah sastra Sunda.
BACA JUGA : Jangjawokan, Puisi Magis dalam Kebudayaan Sunda
Ciri-ciri ini terlihat dari kategori Jangjawokan sebagai bagian dari puisi arkais Sunda, mencerminkan keunikan dan kekuatan magis yang melekat pada Jangjawokan.
Meskipun demikian, melalui kategorisasi ini, Jangjawokan sebagai aset budaya bangsa, walaupun hanya sebagai karya seni tanpa unsur magisnya.
(Hafidah Rismayanti/Budis)